Membaca doa ini dengan penuh keikhlasan diyakini dapat menghapuskan dosa-dosa besar maupun kecil.
Membuka pintu-pintu kemudahan dalam mencari nafkah dan menyelesaikan masalah hidup yang pelik.
Transliterasi: Allahumma inni as’aluka bismika: Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim, Ya Karim, Ya Muqim, Ya ‘Azhim, Ya Qadim, Ya ‘Alim, Ya Halim, Ya Hakim.
: Total terdapat 1001 nama Allah yang mencakup berbagai dimensi keagungan, keindahan, dan kekuasaan-Nya. doa jawsyan kabir dan terjemahan
: سُبْحَانَكَ يَا لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْغَوْثَ الْغَوْثَ خَلِّصْنَا مِنَ النَّارِ يَا رَبِّ
"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, taqwa, keutamaan, dan kekayaan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan, baik yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi. Wahai Yang Maha Hidup, Wahai Yang Maha Terus Mengawasi, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan, maka tolonglah aku, karena tidak ada yang dapat menolongku selain Engkau. Dan tidak ada yang dapat menolong kami selain Engkau, baik dengan penglihatan kami, pendengaran kami, maupun hati kami. Dan tidak ada yang lebih bodoh daripada orang yang mengira bahwa ada yang dapat menolong selain Engkau. Wahai Yang Maha Hidup, Wahai Yang Maha Terus Mengawasi, Wahai Yang Maha Perkasa, Wahai Yang Maha Bijak."
Setiap babnya memuat sekitar 10 nama atau sifat Allah SWT, sehingga total keseluruhan mencapai 1.001 nama agung. Membaca doa ini dengan penuh keikhlasan diyakini dapat
Reciting one chapter of Jawsyan Kabir on Laylatul Qadr is said to be better than 1,000 months of worship.
Mengingat doa ini berisi ribuan asma Allah yang suci, para ulama menjelaskan bahwa energi spiritual dan fadhilah (keutamaan) dari doa ini sangatlah masif. Beberapa keutamaan utamanya antara lain:
Dengan merenungkan 1001 nama Allah, pembaca akan semakin mengenal sifat-sifat Tuhan. : Total terdapat 1001 nama Allah yang mencakup
After the 100th chapter, the reciter concludes with:
Translation (terjemahan) plays a vital role in making this prayer accessible to a global audience, including the vast Indonesian-speaking population. While the original Arabic possesses a specific phonetic beauty and rhythmic power, the translation allows practitioners to engage with the intellectual and spiritual depth of the text. For many, reading the "terjemahan" is not merely a linguistic exercise but a bridge to "ma’rifah" (deep knowledge of God). It transforms the prayer from a ritualistic recitation into a conscious dialogue. Indonesian translations often emphasize the "keindahan" (beauty) and "keagungan" (majesty) of Allah, using poetic language that resonates with the local cultural sensibilities of devotion.